Desa yang merupakan manufaktur (tata laksana) terkecil dari pemerintahan dari sebuah Negara sudah sewajarnya mendapat perhatian yang sama dengan negaranya. Negara (baca : Indonesia) yang terdiri atas 33 propinsi, 425 kabupaten/Kota dan 3.237 kecamatan harus berjalan secara seimbang, artinya mekanisme pemerintahan yang selama ini bersifat teosentris harus bisa mengakomodir kepentingan pemerintah desa, meskipun sekarang hal ini sudah terlihat kentara.
Indonesia (yang dulunya bernama Hindia Belanda) menjelang detik-detik kemerdekaan tak bisa dilepaskan dari peran serta para pemuda (baca: mahasiswa / kaum elit pendidikan). Meskipun terjadi pro-kontra antara golongan tua (Soekarno-Hatta) dan golongan muda, tapi akhirnya berkat antusiasme golongan muda kemerdekaan dapat segera diproklamirkan di bumi pertiwi tercinta.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka eksistensi pelajar (mahasiswa) sangat strategis terkait dengan eksistensi sebuah bangsa / Negara, tak terkecuali dengan desa yang merupakan elemen terkecil dari sebuah pemerintahan di Indonesia. Sebuah bangsa / Negara dapat dikatakan maju manakala pemuda (pelajar/mahasiswa) bahu membahu memperjuangkan nasib bangsa itu sendiri. Untuk itu semestinya nasib bangsa ini ada ditangan kaum muda generasi penerus bangsa, begitu juga dengan desa.
Tapi ada semisal kejanggalan di desa dewasa ini, pasalnya pelajar (mahasiswa) yang notabenenya sebagai kaum elit pendidikan yang mengenyam pendidikan di kota enggan atau boleh dikata tak mau lagi kembali ke kampung halamannya usai merampungkan kuliahnya dengan dalih kurangnya lapangan pekerjaan untuk menampung keahliannya dan akhirnya mereka bersama-sama menetap di kota !!!
Ironis memang. Seolah-olah kota adalah segala-galanya. Kalau sudah seperti itu adanya siapa lagi yang akan berjuang untuk mengembangkan sekaligus memajukan desa kita tercinta. Inilah pekerjaan rumah yang harus dicarikan solusinya bersama oleh para pemuda khususnya pelajar (mahasiswa) selaku komponen kaum terpelajar. Sudah saatnya pelajar (mahasiswa) kembali membangun desanya masing-masing demi majunya sebuah bangsa dan Negara. Negara bisa maju jikalau desanya pun maju.
Sabtu (31/12/2011) bertempat di Aula Balai Desa Ketanjung, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, diadakan Pelantikan Pengurus Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Ketanjung (P2MK). Acara dimulai pada pukul 14.30 Wib yang diawali dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya, dilanjutkan dengan pembacaan Surat Keputusan Kepala Desa Ketanjung tentang susunan pengurus P2MK Periode 2011-2013 oleh Amin Saifudin selaku Presiden Demisioner dan Anggota Dewan Pembina P2MK, setelah itu pengurus secara resmi dilantik oleh Zaenal Arifin (Kaur Kesra Desa Ketanjung, red) mewakili Kepala Desa Ketanjung yang berhalangan hadir.
Achmad Sholeh, Presiden P2MK yang baru saja dilantik menyampaikan, bahwa kegiatan pelantikan ini merupakan kontrak awal pengurus dalam menjalankan amanah organisasi demi keberlangsungan sebuah organisasi di masa mendatang. Dia berharap seluruh jajaran pengurus baru bisa mengemban amanah tersebut dengan baik sampai akhir periode dengan dukungan semua elemen dan tokoh masyarakat di lingkungan Desa Ketanjung agar cita-cita dan misi P2MK dalam rangka mewujudkan masyarakat berpendidikan dapat kian tercapai.
Sementara itu Rohmad Soleh, S. Pd.I. selaku promotor berdirinya organisasi sekaligus Ketua Dewan Pembina P2MK dalam sambutannya menyampaikan, bahwa Alhamdulilah dengan dukungan dari berbagai pihak akhirnya organisasi yang concern di bidang pendidikan ini pada khususnya dan bidang-bidang lain pada umumnya, sudah dapat berjalan selama 3 periode dan Achmad Sholeh ini merupakan Presiden yang ketiga setelah Amin Saifudin (kedua, red) dan Rohmad Soleh (pertama, red). Carilah banyak pengalaman di P2MK dan gali potensi diri kalian masing-masing baik lewat bangku kuliah maupun sekolah untuk kemudian kalian realisasikan dalam sebuah kegiatan untuk sajian warga Desa Ketanjung tercinta. Semoga di kemudian hari dengan memori hari-hari sekarang, kelak kalian sebagai generasi penerus bangsa dapat mengukir sejarah indah di desa ini, harap Soleh sapaan akrab Rohmad Soleh, S. Pd.I. diakhir sambutannya.
Setelah sukses melaksanakan pelantikan di akhir tahun 2011, tepat pagi hari di awal tahun 2012, pada hari Minggu (1/1/2012) dihelatlah Rapat Kerja Pengurus Periode 2011-2013. Acara dilaksanakan di Komplek Wisata Pantai Bandengan Jepara yang dimulai tepat pukul 09.00 Wib. Adapun agenda pada kegiatan ini meliputi, Sidang Pleno, Sidang Komisi dan Sidang Paripurna. Dalam Sidang Pleno I dengan materi Pembahasan Agenda Acara, Draft Tata Tertib Raker dan pemilihan presidium tetap. Sidang Pleno I yang dipimpin oleh presidium sementara yakni Rohmad Soleh (Ketua), Achmad Sholeh (Sekretaris) dan Amin Saifudin (Anggota) ini akhirnya menetapkan Achmad Sholeh (Ketua), Yuliana (Sekretaris) dan Elis Pujiati (Anggota) sebagai presidium tetap guna untuk melanjutkan acara sampai paripurna.
Dalam Sidang Pleno II dengan materi Pembentukan Komisi dan Pemilihan Pimpinan Sidang Komisi yang dipimpin oleh presidium tetap, terbentuklah 2 Komisi. Yaitu Komisi A (Program Dep. Pendidikan dan Pelatihan, Dep. Kesehatan dan Lingkungan Hidup dan Dep. Agama dan Bina Mental) dengan Ketua Komisi Arif Setiawan dan Komisi B (Program Dep. Ekonomi dan Kewirausahaan, Dep. Sosial dan Hubungan Masyarakat dan Dep. Pengembangan Sumber Daya Manusia) dengan Ketua Komisi Muhammad Musa. Usai itu, kemudian kedua komisi tersebut secara terpisah berdiskusi untuk merumuskan rencana program kerja yang akan dijadikan acuan selama satu periode kedepan.
Sidang selanjutnya adalah Sidang Pleno III dengan materi Laporan Komisi A dan B. Dalam Sidang ini, ketua kedua komisi tersebut secara bergantian mempresentasikan hasil diskusinya kepada seluruh peserta sidang agar mendapatkan respon dan masukan untuk kemudian hasil tersebut diserahkan kepada presidium tetap guna disahkan pada sidang paripurna. Dan Alhamdulillah tepat pukul 11.30 akhirnya semua hasil dari laporan komisi pada Sidang Pleno III tersebut secara resmi disahkan oleh Presidium Tetap pada Sidang Paripurna. Usai season istirahat, makan dan salat acara dilanjutkan dengan wisata alam bersama di Pantai Bandengan dan Pulau Panjang Jepara hingga pukul 16.00 Wib.
Sabtu (24/3) bertempat di Aula SD Negeri Ketanjung 2 diadakanlah kegiatan Istighosah Sukses Ujian Nasional Tahun 2012 untuk siswa-siswi SD, SMP dan SMA/Sederajat oleh Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Ketanjung (P2MK) Desa Ketanjung Kec. Karanganyar bekerjasama dengan SD Negeri Ketanjung 2. Acara secara resmi dimulai tepat pukul 20.00 Wib oleh Master of Ceremony, Yuliana dengan bacaan Al Fatihah.
Dalam kata sambutannya Presiden P2MK, Achmad Sholeh menyampaikan bahwa acara Istighosah Sukses UN ini diadakan dalam rangka untuk kesuksesan Ujian Nasional Tahun 2012. Kesuksesan dalam menghadapi segala sesuatu wabil khusus ujian dalam dunia pendidikan tidak hanya ditentukan dengan hanya tekun dan rajin belajar, akan tetapi juga diiringi dengan berdo’a kepada Allah Swt agar bisa diluluskan dari ujian tersebut, dan melalui wasilah Istighosah inilah semoga harapan itu bisa didengar oleh Allah Swt.
Rohmad Soleh, S. Pd. I. selaku Ketua Dewan Pembina sekaligus pendiri P2MK mengatakan, bahwa dalam rangka untuk mewujudkan visi P2MK kedepan dalam mencerdaskan masyarakat, ia mengajak para siswa-siswi agar jangan hanya berhenti mencari ilmu sampai di tingkat menengah atas apalagi dibawahnya, karena wajib belajar sekarang tidak lagi 9 tahun tetapi 12 tahun. Syukur-syukur dapat mencari ilmu ke jenjang yang lebih tinggi lagi seperti perguruan tinggi, himbaunya. Sementara itu, Mashud, S. Pd. selaku Kepala SD Negeri Ketanjung 2 menyampaikan, bahwa untuk menuju kesuksesan ada 4 tahapan yang harus dilalui, yaitu : niat, mengetahui ilmu, sabar dan qona'ah.
Terlihat antusias yang baik dari para peserta yang nantinya akan berjuang keras untuk menakhlukkan ujian nasional di tahun 2012 ini, terbukti dari banyaknya para siswa-siswi yang hadir pada kegiatan tersebut baik dari kalangan kelas VI SD, IX SMP, dan XII SMA/Sederajat. Lantunan bacaan Istighosah yang terdiri dari bacaan-bacaan kalimat toyyibah tersebut menggema diantara relung-relung ruang Aula SD Negeri Ketanjung 2 seolah-olah membuktikan kekhusu’an para peserta dalam mengikuti kegiatan tersebut.
Adapun menu inti kegiatan ini diantaranya, Pembacaan Asma’ul Husna yang dipimpin oleh Rohmad Soleh, S. Pd. I., Pembacaan Istighosah oleh Ustadz Sya'roni (Ketua Ta'mir Masjid Jami' Al Fataa Ds. Ketanjung), dan bacaan tahlil serta do’a oleh K. Noor Sholeh (Dewan Syuri'ah NU Ranting Ketanjung). Kegiatan yang ditutup dengan ramah tamah ini, selain dihadiri oleh Dewan Guru SD Negeri Ketanjung 2 juga dihadiri oleh Komite SD Negeri Ketanjung 2.
Minggu (11/12) bertempat di Makam Punden Mbah Surgi Zaenal Arifin Desa Ketanjung, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, diadakanlah kegiatan Peringatan Haul Mbah Surgi Zaenal Abidin untuk Tahun 1433 H. Acara dimulai pada pukul 08.30 Wib dengan diawali pembacaan Salawat Nabi, Yasin dan Maulid Diba’ dari Jam’iyah Khadlroh Yatim-Piatu Demak, kemudian dilanjutkan dengan serangkaian acara peringatan Haul yang diisi Mauidloh Hasanah oleh KH. Mas’ud Alwi dari Kota Kudus. Dalam mauidhohnya Kiai Mas’ud menyampaikan, bahwa acara seperti inilah yang perlu dilestarikan oleh warga masyarakat, karena sebagai luapan rasa terima kasih kita kepada para pendahulu yang telah berjasa dalam mengembangkan agama Islam. Apalagi Si Mbah Surgi Zaenal Abidin yang dalam silsilah masih keturunan dari Raden Rohmat (Sunan Ampel Surabaya, red) ini.
Dengan kegiatan semacam ini semoga dapat berdampak kepada masyarakat Desa Ketanjung agar diberi keberkahan hidup oleh Allah Swt yang meliputi kesejahteraan warga dari segi ekonomi dengan diberikannya hasil panen padi yang melimpah, keamanan wilayah setempat, anak-anak Desa yang Saleh-Salehah dan rejeki yang halal lagi berkah, urai Kiai Mas’ud sebagaimana dilansir dari kata sambutan Kepala Desa Ketanjung, H. Isa Ansori, ST. Kiai Mas’ud juga menyampaikan, bahwa Waliyullah (Kekasih Allah, red) adalah manusia agung selain Nabi dan Rasul yang dekat dengan Allah Swt. Kita sebagai manusia biasa yang banyak berlumuran dosa sudah sepatutnya untuk berusaha mengikuti jejak langkah beliau dalam membangun masyarakat secara ikhlas dan sabar agar dapat tercipta tatanan masyarakat yang religius penuh berkah limpahan kasih sayang dari Allah Swt.
Selanjutnya dalam rangkaian acara Haul ini, Rohmad Soleh, S. Pd. I. selaku Ketua Dewan Pembina P2MK sekaligus sebagai Ketua Panitia kegiatan didampingi Amin Saifudin (Presiden P2MK Periode 2009-2011) memberikan santunan kepada anak Yatim-Piatu di lingkungan Desa Ketanjung berjumlah 24 anak yang terdiri dari 14 Yatim dan 10 Piatu. Oleh komando dan prakarsa Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Ketanjung (P2MK) dan organisasi mitranya yaitu Karang Taruna. Alhamdulillah kegiatan santunan semacam ini sudah berjalan selama tiga tahun dan tahun ini untuk yang ketiga kalinya. Adapun dana santunan berasal dari iuran sukarela dari para anggota kedua organisasi tersebut dan donator-donatur di lingkungan Desa Ketanjung. Dia sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kegiatan santunan ini. Semoga sebagian rejeki para anggota dan donator serta sebagian uang saku para pelajar dan mahasiswa yang diberikannya secara ikhlas akan mendapat balasan dari Allah Swt dan dicatat sebagai amal saleh, harap Soleh begitu ia akrab disapa oleh teman-teman satu desanya.
Disampaikannya pula, bahwa kegiatan santunan ini sudah menjadi agenda rutin tahunan dan masuk dalam program kerja kedua organisasi andalan desa tersebut. Kalau dua tahun yang lalu santunan hanya diberikan di wilayah ibu kota Desa, akan tetapi tahun ini (2011, red) kami sampaikan kepada anak-anak Yatim-Piatu di seluruh wilayah Desa Ketanjung yang terdiri dari empat pedukuhan. Acara santunan ini dilaksanakan selain dalam rangka menjalankan perintah agama juga untuk melatih kepekaan sosial anggotanya dalam kaitannya hidup bermasyarakat agar tercipta sebagai generasi yang memiliki solidaritas kepada anak-anak yang berpredikat sebagai “Yatim-Piatu” tersebut .
Sekarang mau tidak mau kita tengah berada pada abad 21 (millenium ke-3). Di era ini semoga masyarakat desa Ketanjung dapat menjadikannya sebagai momentum awal untuk membuka pikiran dan hati nuraninya dengan motivasi dan semangat baru untuk menjadi insan-insan terdidik terlebih generasi muda penerus bangsa dalam menyelamatkan desa tercinta ini dari keterpurukan dan ketertinggalan dalam bidang pendidikan. Dan masyarakat dapat beranggapan bahwa pendidikan adalah menjadi prioritas utama dalam menggapai kesuksesan mutlak.
P2MK (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Ketanjung) dibentuk dengan harapan warga masyarakat desa Ketanjung mau dan dapat membuka pikirannya sekaligus mata hatinya agar dapat memahami tentang arti penting sebuah pendidikan dan manfaatnya. Karena pendidikan adalah segala-galanya. Sebuah bangsa atau desa yang merupakan lingkup terkecil dari tata pemerintahan yang ada akan bisa maju manakala masyarakatnya menjadi insan yang terdidik terkhusus bagi para pemuda generasi penerus bangsa. Dengan harapan desa ini dapat menjadi desa yang beriklim pendidikan, aman, sejahtera, tentram dan harmonis penuh berkah limpahan kasih sayang dari Allah SWT, sehingga apa yang menjadi cita-cita kita baik di dunia dan akhirat dapat tercapai dengan sempurna.
Desa Ketanjung yang merupakan salah satu desa dari 17 desa di wilayah kecamatan Karanganyar kabupaten Demak mempunyai luas wilayah = 326,974 Hektar (Ha), dengan rincian sebagai berikut:
Dengan batas-batas wilayah, antara lain :
-Sebelah Utara berbatasan dengan desa Tanjung Karang – Kudus
-Sebelah Selatan berbatasan dengan desa Undaan Lor – Kudus
-Sebelah Barat berbatasan dengan desa Ngemplik Wetan – Demak
-Sebelah Timur berbatasan dengan desa Ngemplak – Kudus
Adapun jumlah penduduk di desa Ketanjung hingga saat ini (data per 5 Januari 2009) mencapai 3954 jiwa. Dengan rincian laki-laki sebanyak 1676 jiwa, dan perempuan sebanyak 1678 jiwa yang tergabung dalam 918 Kepala Keluarga (KK). Desa Ketanjung dibagi dalam empat Dukuh, yaitu : Ketanjung, Norowito, Kedung, dan Karang Turi. Terdiri dari 19 Rukun Tetangga (RT) dan 5 Rukun Warga (RW).
Desa Ketanjung kalau dilihat dari peta kabupaten Demak berada disebelah Timur dari pusat kota Demak dan berdekatan dengan kabupaten Kudus. Boleh dibilang setelah terjadinya alih fungsi sungai “Wali” yang merupakan batas desa Ketanjung dengan kabupaten Kudus terjadi perombakan oleh pihak pemerintah karena keberadaannya yang berkelok-kelok dan berbelok-belok dan dikatakan kurang enak dipandang mata, kemudian diputuskan untuk meluruskan sungai tersebut dan yang sekarang dikenal dengan nama sungai “Wulan” sebagai pembatas dan penghubung antara kabupaten Demak dan kabupaten Kudus pada khususnya, selain sebagai jalan propinsi (Pantura) juga sebagai jalan nasional pada umumnya. Dan yang dulunya terkenal sebagai sungai buatan “Wali” sekarang dikenal oleh warga desa Ketanjung dengan sebutan “Kali Mati”, karena tidak difungsikan lagi. Terjadinya alih fungsi dari sungai “Wali” tersebut ke sungai “Wulan” konon diperkirakan tatkala penjajah Belanda masih menjajah Indonesia, yaitu sekitar awal abad 20 (tahun 1900-an).
Dari peristiwa tersebut, akhirnya secara geografis membuat desa Ketanjung terbelah menjadi dua bagian, yaitu di barat dan timur sungai. Warga desa Ketanjung menyebut yang di barat sungai Wulan dengan “Brang Kulon” atau “Kulon Kali”, sebagian yang lain di timur sungai Wulan dengan “Brang Wetan” atau “Wetan Kali”, yang kemudian secara pandangan umum atau secara geografis Brang Kulonlah yang lokasinya berada tepat di kabupaten Demak, sedang Brang Wetan berada di kabupaten Kudus, meskipun secara administratif keduanya masih dalam lingkup pemerintah kabupaten Demak. Dan kebetulan juga Brang Kulonlah yang terdiri dari dua Rukun Warga yang mudah dijangkau dan dicari alamatnya secara administratif baik dari arah kabupaten Kudus maupun kabupaten Demak. Sedang yang Brang Wetan yang terdiri dari tiga Rukun Warga, kalau dari arah kota Demak ketika orang hendak ke pusat pemerintahan desa Ketanjung harus melintasi jembatan sungai Wulan ke arah kabupaten Kudus berhenti di traffic light jalan lingkar jurusan ke Pati-Surabaya kemudian jalan lurus sampai di traffic light Proliman (Tanjang Karang-Kudus, red) kemudian belok ke arah kanan jurusan Undaan-Purwodadi ± 1,5 KM sampai pada perempatan jembatan sungai Bakinah (batas desa Jetis Kapuan-Jati-Kudus dan Ngemplak-Undaan-Kudus) belok ke arah kanan lurus ± 0,5 KM. Dan bisa juga lewat pertigaan masjid desa Wates-Undaan-Kudus belok ke arah kanan (jika dari arah Kudus-Purwodadi dan belok kiri jika dari arah sebaliknya) masuk ± 350 M. Karena letaknya yang tidak berada pada pinggir jalan raya utama kota, boleh dikata desa ketanjung merupakan desa yang berada dipelosok atau pedalaman.
Dan khusus bagi pengendara roda dua (jika berjalan dari arah Demak ke Kota Kudus ), ada jalur alternatif agar lebih cepat sampai di ibu kota desa Ketanjung, yaitu setelah melintasi jembatan sungai Wulan ke arah kabupaten Kudus berhenti di traffic light jalan lingkar jurusan ke Pati-Surabaya ± 200 meter ada perempatan ditengah jalan kemudian belok kearah kanan (kalau dari arah Demak ke Kudus-Surabaya), dan dari traffic light Proliman dari jurusan ke Surabaya-Semarang lurus ± 500 meter ada perempatan ditengah jalan kemudian belok ke arah timur (kalau dari arah Kudus ke Demak-Semarang), kemudian masuk Gapura dengan bertuliskan Selamat Datang Di Dukuh Gendok (Jari Wetan-Kudus) lurus ± 80 meter melintasi jembatan kecil terus belok ke kiri dan sesampainya di Sekolah Dasar Negeri 3 Jati Wetan kemudian belok ke arah kanan lurus dan mentok di Kali Anyar kemudian belok kiri ± 100 meter hingga di jembatan yang melintasi Kali Anyar kemudian belok kearah kanan mengikuti jalan beton yang berada di tengah sawah ± 350 meter hingga tepat sampai di Desa Ketanjung tepatnya di RT 02 RW I. Dan jikalau dari arah Purwodadi ke Kudus lebih dekat dan enak lewat di jalur utama tadi.
Berdasarkan realita yang ada warga desa Ketanjung sejak awal permulaannya menempati rumah yang terbuat dari kerangka kayu (Rumbia) dan beratapkan anyaman daun kelapa (Welet) serta beralaskan tanah ditunjang lagi dengan jalan utama desa yang masih “Bletok”.
Dan konon ceritanya desa Ketanjung ketika jaman penjajahan Belanda sempat dibuat tempat singgah tentara Belanda ketika Jepang tengah berkuasa di Indonesia. Waktu itu ketika Belanda hendak menjajah menuju ke kabupaten Kudus terlebih dahulu lewat jembatan-jembatan tanggul (Sesek : Jawa) perbatasan Demak dan Kudus.
Bisa kita bayangkan bagaimana waktu itu ketika jalan desa yang masih bletok tersebut bias digunakan untuk lalu lalang orang ketika hendak pergi keluar desa. Ketika itu pula warga belum kuasa untuk menjadikan jalan tersebut menjadi layaknya jalan yang bias dilewati dengan seksama sebagaimana jalan-jalan yang diurug dengan tanah padas seperti jalan pada umumnya. Pada malam hari, apalagi ketika musim penghujan tiba hawa dingin menyelinap disekujur tubuh warga dan menjadikn pemandangan malam menjadi hitam pekat sunyi senyap tanpa adanya basuhan sinar rembulan. Sesekali lampu “senter” menerangi sekitar rumah warga, akan tetapi karena terlalu kencangnya angin dimalam hari akhirnya seringkali lampu tersebut padam. Tiada satupun warga yang keluar rumah karena tiada lampu yang berada di jalanan.
Dan tatkala musim kemarau tiba, warga berusaha merapikan alas rumah dan sekitarnya dengan cara mengolah tanah yang diambil dari Sungai Wulan dicampur dengan Brambut (ampas padi) kemudian diratakan dibuat layaknya membuat plesteran seperti pada zaman sekarang terus dibiarkan hingga kering. Sesekali warga membuat “pedian” untuk sekedar menghangatkan badan dengan mengandalkan nyala api yang terbuat dari ampas padi yang dibakar bagai gundukan tanah dan bersama-sama sambil jagongan (bincang-bincang) seraya menikmati indahnya cakrawala di malam hari dengan bermandikan cahaya rembulan.
Hal semacam itu sudah menjadi rutinitas warga hingga berpuluh-puluh tahun adanya. Pada zaman pemerintahan Kepala Desa Abdul Rosyid baru ada inisiatif warga untuk membenahi jalan utama desa agar tidak “bletok” lagi. Alhamdulillah dengan adanya Bandes (Bantuan Desa) dari pemerintah kabupaten akhirnya inisiatif tersebut direalisasikan dengan mengurug jalan dengan tanah padas. Hal ini pertama kali dilakukan pada tahun 1975.
Untuk kali pertama di tahun 1976 bersamaan dengan urugan jalan desa Ketanjung, rumah batu-bata mulai didirikan warga namun eksistensinya masih bias dihitung dengan jari jemari. Pertama rumah beton didirikan bercirikan arsitektur Belanda tanpa menggunakan cakar ayam. Ketika itu orang yang hendak membuat rumah beton harus membeli pasir dan yang lainnya ke Klenteng Tanjung Karang-Kudus (yang merupakan Klenteng tertua di kabupaten Kudus) diangkut dengan tomblok beramai-ramai (gotong royong) karena sebagian jalan yang masih bletok belum terkena urugan sepenuhnya tidak bias dilalui oleh kendaraan armada pengangkut barang.
Ditahun ini pula jalan tembus antara desa Ketanjung-Wates (Kudus) dan Ketanjung-Ngemplak (Kudus) mulai dibuat, dan yang sekarang menjadi jalan tembus ke Ngemplak dulunya merupakan tanggul Kali Anyar yang bermuara dari pintu sungai Tanggul Angin Jati Kudus hingga ke desa Ngemplak. Konon setelah terjadinya alih fungsi sungai “Wali” ke sungai Wulan sebagai batas desa sekaligus kabupaten Demak dengan kabupaten Kudus, karena sungai “Wali” sudah tidak digunakan atau difungsikan lagi untuk pembuangan air akhirnya dibuatlah “Kali Anyar” sebagai tempat pembuangan air rowo daerah Kudus. Disebut “Kali Anyar” karena akibat relokasi fungsi sungai “Wali” yang sudah tidak dimanfaatkan lagi. Hingga sekarang warga Ketanjung dan sekitarnya masih tetap menyebutnya dengan “Kali Anyar”, dari bahasa Jawa Kali artinya sungai, dan Anyar yang berarti baru.
Pada tahun-tahun berikutnya rumah batu-bata sudah banyak warga yang mendirikannya, akan tetapi meskipun demikian pemandangan desa di malam hari masih kian menghitam tatkala cahaya bulan tertutup oleh awan. Selepas lengsernya Bapak Abdul Rosyid dari jabatannya, proyek pengurugan jalan dengan tanah padas kemudian diteruskan oleh Bapak M. Anshori selaku Kepala Desa yang baru hingga menjangkau ke seluruh wilayah desa. Akhirnya pada tahun 1990 ketika beliau baru beberapa bulan menjabat Kepala Desa diusulkanlah tentang proyek penerangan rumah warga oleh Bapak Karjono selaku Carik desa Ketanjung dan berdasarkan musyawarah bersama menyepakati akan adanya listrik di desa ini.
Adanya listrik masuk desa inilah kian membuat angina segar bagi warga desa Ketanjung baik bagi orang tua, pemuda dan anak-anak pelajar. Anak-anak pelajar di malam hari yang dulunya belajar hanya dengan diterangi lampu senter yang terkadang padam kalau terkena hembusan angin malam, kini merasa nyaman dan tidak khawatir lagi untuk berlama-lama belajar agar menjadi orang pintar. Di tambah lagi adanya rencana warga untuk membuat penerangan jalan desa kian menjadikan desa Ketanjung terlihat terang layaknya kota yang setiap malam bermandikan dengan indahnya basuhan lampu jalanan.
Dari Bandes (Bantuan Desa), dilanjutkan dengan Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dengan alokasi dana dari pemerintah kabupaten diharapkan agar tiap-tiap kecamatan berikut desa-desa yang berada dibawah naungannya bias bergerak lebih baik dari sebelumnya. Pergantian program Bandes menjadi PPK ini tatkala Kepala Desa Ketanjung dijabat oleh Bapak M. Basyirudin hingga berlanjut ke Bapak Isa Anshori, ST. Akan tetapi program tersebut (PPK, red) beberapa tahun kemudian berubah lagi menjadi Alokasi Dana Desa (ADD) dari pemerintah kabupaten Demak oleh Bupati Demak Bapak Drs. H. Tafta Zani, MM. dengan alokasi dana APBD yang 70 % untuk pembangunan fisik daerah dan desa. Ditambah lagi dengan adanya program nasional dari pemerintah pusat dari presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) berupa Program Nasional Pengembangan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP). Maka dengan adanya dua proyek ini (daerah dan pusat) didukung juga dengan swadaya masyarakat akhirnya setelah tampuk pemerintahan desa beralih ke pundak Bapak Isa Anshori, ST. (akhir tahun 2003) proyek pengurugan jalan dengan tanah padas beralih menjadi proses pengerasan jalan dengan betonisasi guna menunjang jalan yang sesuai dengan iklim masyarakat kota pada umumnya dan hingga saat ini sudah berjalan sekitar ± 90 %.
Alhamdulillah, jalan desa yang sekarang ditunjang dengan betonisasi yang ada membuat nyaman untuk lalu lalang dan transportasi warga semakin mudah karena tidak lagi membuat kotor kendaraan ketika musim hujan dating, ditunjang lagi dengan lebih dari 90 % rumah warga yang beralih menjadi rumah batu-bata seakan menjadikan desa Ketanjung bagaikan sebuah perumahan yang berada di pedalaman.
Berdasarkan data dari kecamatan, desa Ketanjung merupakan desa dengan pendapatan termiskin dari Anggaran Pendapatan Desa (APBDes) di urutan ke 16 dari 17 desa yang berada di kecamatan Karanganyar. Pendapatan APBDes desa Ketanjung setiap tahun berkisar antara 105 Juta sampai 130-an Juta rupaih jauh dibawah desa Kedung Waru Lor yang mencapai hampir ke angka 1 Milyar rupaih! Meskipun demikian ada hal yang menarik yang perlu kita simak tentang kemapanan ekonomi warga desa ketanjung pada era sekarang ini.
Pada era Presiden Soeharto beberapa tahun dinobatkan sebagai orang nomor satu di republic ini menggantika Ir. Soekarno, mayoritas warga desa Ketanjung berpencaharian sebagai petani. Pada awalnya di desa Ketanjung waktu itu tanah yang digarap petani masih cocok digunakan untuk menanam jagung, itupun di waktu musim kemarau tiba saja. Ketika musim penghujan dating tegalan sama sekali tidak dapat ditanami apa-apa karena saking banyaknya air yang ada dan berdiam di tegalan. Sehingga eksistensi warga sebagai petani belum bisa memenuhi kebutuhan yang diharapkan. Sesekali warga mengisi kerjanya pada musim penghujan dengan menangkap ikan di rawa-rawa tegalan.
Kokok ayam bersahutan dari belakang rumah warga menandakan waktu pagi akan segera tiba dan mentaripun kian siap menerangi bumi di pagi hari. Menu sarapan pagi dengan “Tiwul” seolah-olah menjadi rutinitas warga sebelum berangkat bekerja, dan gorengan jagung seolah-olah menjadi pengganti uang saku bagi anak-anak yang hendak berangkat ke sekolah. Hal seperti itu dijalani warga desa Ketanjung hingga tahun 1980-an. Pada saat tahun 1978 pernah dari pihak pemerintah desa membuat pompanisasi sawah sebagai penunjang petani agar hasil garapannya dapat berlimpah, akan tetapi karena beberapa alas an akhirnya pompanisasi sawah pun berjalan kurang maksimal.
Memang pada waktu itu sawah tegalan belum terbiasa digunakan untuk menanam padi, sehingga hsilnya pun kurang signifikan. Kemudian belajar dari pengalaman yang telah lalu, akhirnya di tahun 1990 dibuatlah lagi pompanisasi sawah dengan didukung Panitia Gadu secara resmi dari pihak desa. Alhamdulillah dari tahun ke tahun apa yang diharapkan dan yang menjadi cita-cita warga desa Ketanjung membuahkan hasil yang nyata. Tegalan yang dulunya hanya bias ditanami jagung pada musim kemarau saja, sekarang bias ditanami padi baik pada musim kemarau maupun penghujan. Seiring berkembangnya waktu, proyek pompanisasi akhirnya dapat berlangsung hingga saat sekarang ini dan berjalan dengan lancar.
Seiring dengan berkembangnya dunia teknologi yang menuntut manusia untuk bekerja selain menggunakan otot tangannya juga dengan menggunakan mesin-mesin industri yang ada agar hasil produksi melimpah. Maka posisi geografis desa Ketanjung yang masih berdekatan dengan kabupaten Kudus membawa angin segar bagi perkembangan ekonomi warga desa Ketanjung. Oleh sebab itu, di awal era 1980-an banyak dari warga desa Ketanjung yang diterima masuk di pabrik industri di wilayah Kudus baik laki-laki maupun perempuan. Dan semenjak pintu kran globalisasi dibuka, banyak warga desa Ketanjung yang berinisiatif mendapatkan ganti rugi keringatnya di pabrik-pabrik industri negeri Kudus tersebut.
Terbukti hingga sampai saat ini sekitar lebih dari 50 % warga desa Ketanjung bekerja di pabrik-pabrik rokok yang terdapat di kota Kretek, terutama para wanitanya. Seperti di pabrik rokok PT. Djarum, Nojorono, Sukun dan industri-industri lain semisal PT. Pura Barutama, PT. Mulyatex dan lain sebagainya. Tidak hany itu sebagian besar selain bekerja di pabrik juga nyambi di sawah masing-masing. Sehingga bisa dikatakan warga desa Ketanjung berprofesi sebagai “Double Profesi”, tapi juga ada yang tidak. Dari situlah yang akhirnya membuat penghasilan warga bisa digunakan untuk membuat rumah batu-bata dan membeli peralatan-peralatan atau fasilitas-fasilitas rumah tangga yang lainnya, semisal motor, TV dan lain sebagainya.
Hingar bingar kendaraan bermotor dan lalu lalang anak-anak yang bersepeda dipagi hari ketika warga hendak bekerja dan anak-anak hendak sekolah seraya membuat ramai jalanan desa dan memperkokoh eksistensi ekonomi warga Ketanjung yang semakin meningkat adanya. Hampir rata orang berkendara baik anak-anak dan dewasa dan sedikit sekali yang hanya berjalan kaki.
Mentari pagi di ufuk timur yang membawa secercah cahaya kuning seakan membenarkan hal tersebut. Akan tetapi apakah kemapanan ekonomi warga tersebut membuat warga desa Ketanjung juga memprioritaskan hal-hal (bidang-bidang) yang lainnya? Seperti halnya pendidikan. Sebuah pertanyaan yang menuntut jawaban dari warga desa Ketanjung untuk menjawabnya sendiri!
Dahulu kala ada seorang musafir yang kedatangannya belum dapat diketahui bersama dan juga keturunan siapa (!) berkunjung atau singgah di tepi sungai perbatasan antara kabupaten Demak dan kabupaten Kudus tepatnya disebelah selatan persis kabupaten Kudus. Konon katanya sungai tersebut adalah sungai buatan “Wali”! disebelah sungai itulah beliau singgah di sebuah alas di bawah tanggul, akhirnya di alas tersebut beliau membabat alas dan berinisiatif untuk membuat sebuah komunitas atau perkampungan. Lama kemudian setelah usaha kerasnya membabat alas hampir selesai, karena kecapean akhirnya beliau istirahat dan tertidur di bawah sebuah pohon yang konon akhirnya terkenal dengan nama pohon “Tanjung”. Setelah bangun dari tidur, beliau (yang sekarang di desa Ketanjung terkanal dengan nama Mbah Tawang) terkejut dengan kehadiran dua orang yang berada didekatnya dan akhirnya saling berkenalan.
Menurut sumber yang ada yang satunya bernama Zaenal Abidin dari Wedung Demak dan satunya lagi tidak diketahui namanya akan tetapi menurut keterangan yang ada beliau adalah keturunan Sunan Kalijaga. Ketiga orang inilah akhirnya bahu membahu satu sama lain saling membantu untuk menyelesaikan apa yang menjadi harapan dari Mbah Tawang tersebut. Akhirnya usai mereka bertiga bekerja keras selesailah tugas yang dilakukannya untuk membabat alas tersebut, tapi setelah itu ketiganya mengalami kebingungan karena memikirkan apa nama yang pantas dan cocok untuk memberi nama hasil babat alasnya tadi. Beberapa hari kemudian salah seorang dari ketiganya mendapatkan sebuah ilham atau isyarat untuk menamai hasil babat alasnya tersebut seusai berdo’a kepada Allah Swt. Isyarat tersebut menyebutkan dan mengkonotasikan hasil babat alasnya dengan pohon tanjung yang banyak tumbuh mengitari tanggul dan sungai.
Usai hasil isyarat ini dibicarakan bersama, akhirnya mereka bertiga bersepakat untuk menamai hasil babat alasnya ini dengan “Tanjung”, yang artinya tanah, ujung/pegunungan yang menganjur ke laut, semenanjung, jazirah, pohon yang bunganya berwarna putih kekuning-kuningan dan harum baunya biasa dipakai untuk hiasan sanggul yang tumbuh dirawa-rawa (Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Drs. Tri Rama K., Karya Agung, Surabaya, h. 507, t.th). yang kemudia mendapatkan awalan ke menjadi “Ketanjung”. Dan karena banyak sungai atau kali yang mengitari pohon tanjung ini ada yang menyebut dengan “Tanjung Kali” dari kata Tanjung yang diambil dari sebuah nama pohon tersebut dan Kali (Jawa) diambil dari sungai yang mengitari desa tersebut.
Usai ketiga orang tersebut bersepakat memberi nama “Tanjung”, kemudian mereka berencana dan memikirkan bagaimana caranya agar Tanjung (baca : Desa) ini banyak dikerumuni orang dan benar-benar menjadi kemunitas desa yang makin lama makin banyak penghuninya. Konon menurut cerita, waktu itu dari ketiga orang tersebut yang akhirnya bisa menetap hidup di desa Ketanjung adalah dua orang, yaitu mbah Tawang dan Mbah Zaenal Abidin. Hal ini dibuktikan dengan hanya adanya dua makam dari ketiga orang tersebut, dan yang seorang yang merupakan keturunan Sunan Kalijaga tidak diketahui eksistensinya karena tidak diketemukan makamnya.
Pada waktu awal permulaan terbentuknya desa Ketanjung yang bertindak sebagai juru dakwah atau penyebar agama Islam adalah Mbah Zaenal Abidin dibantu oleh keturunan Sunan Kalijaga tersebut. Sehingga sampai sekarang seolah-olah yang dikenal dan sering diperingati Haulnya tiap bulan Muharram atau Syuro adalah Mbah Zaenal Abidin yang selanjutnya terkenal dengan sebutan Mbah Surgi Zaenal Abidin Tanjung yang makamnya terletak ditengah-tengah dari tata laksana pemerintahan desa tepatnya di RT 04 RW II, sedang makam Mbah Tawang berada disebelah Utara desa.
Berdasarkan data-data yang ada Mbah Surgi Zaenal Abidin adalah masih keturunan dari Sunan Ampel (Raden Rahmatullah) Surabaya yang merupakan anggota dari Wali Songo (Penyebar Agama Islam Tanah Jawa) dan beliau Mbah Surgi Zaenal Abidin merupakan keturunan ke-24 dari Rasulullah Saw. Sehingga yang lebih terkenal dengan Danyang (penunggu) desa seolah-olah adalah Mbah Surgi Zaenal Abidin yang makamnya dipugar laiknya makam-makam Wali Songo yang akhirnya makam tersebut lebih dikenal dengan “Punden Deso”.
Dalam cerita orang tedahulu, bahwa bangunan rumah warga (terutama RW I dan RW II) yang sekarang ditempati merupakan sebuah tanggul dari sungai buatan “Wali” tersebut, yang semula rumah warga berada dibawah tanggul berdekatan dengan tegalan (yang sekarang lebih dikenal dengan sawah “Ndadah dan Mbalong”). Karena eksistensi rumah waktu itu kurang kondusif disebabkan jikalau musim penghujan tiba air yang berasal dari tegalan tersebut mengalir ke halaman dan kedalam rumah mengenai dan membanjiri rumah warga. Akhirnya warga berkehendak mengusulkan aspirasinya ke pemerintah desa kala itu untuk memikirkan keadaan rumah para warga tatkala dimusim penghujan tiba, akhirnya berdasarkan keputusan musyawarah bersama kemudian disepakati bahwa tanggul yang ada diratakan kebawah sekiranya rumah warga jikalau musim penghujan tiba tidak terkena air bah atau banjir. Dari perataan tanggul tersebut, akhirnya banyak warga yang memilih memindah rumahnya ke tempat yang dulunya tanggul tersebut.
Desa ketanjung konon menurut cerita, awal permulaanya diperkirakan sebelum penjajah Belanda menjajah bumi Indonesia, sekitar tahun 1590 M (akhir abad 16). Jadi menurut perkiraan juga usia desa Ketanjung hingga sekarang ± berusia 419 tahun. Wallahu A’lam bis-Showab…
Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Ketanjung atau yang lebih dikenal dengan sebutan P2MK ini tak bisa terlepas dari peran serta saudara Rohmad Soleh. Pria yang terlahir di desa Ketanjung pada 4 Agustus 1984 ini mempunyai ide dan gagasan (inisiatif) terkait dengan pendirian sebuah organisasi berbasis pedesaan ini ketika dia tengah menuntut ilmu di Kota Atlas di sebuah perguruan tinggi Islam swasta ternama dan tertua di Jawa Tengah. Kala itu dia tengah duduk dibangku semester IV di Jurusan Pendidikan Agama Islam (Tarbiyah) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang.
Inisiatif tersebut muncul setelah dia aktif mengikuti berbagai kegiatan ekstra kurikuler kampus baik intra maupun ekstra. Awalnya dia berpikiran bagaimana caranya untuk mengumpulkan para pelajar dan mahasiswa di desa Ketanjung ini agar bisa bersatu membentuk sebuah kegiatan untuk desa tercinta ini. Namun selama beberapa semester inisiatif ini belum bisa direalisasikan dalam bentuk kenyataan, karena pada semester V dan VI dia terlalu sibuk mengikuti kegaitan kampusnya hingga jarang pulang ke kampung halaman. Alhamdulillah, mulai awal semester VII karena beban mata kuliah yang diambil tinggal dua, dia melanjutkan rencana yang sudah digagas tiga semester yang lalu yang sempat tertunda. Mulanya dia mendata atau mengidentifikasi nama-nama pelajar (SMA) dan mahasiswa yang ada di desa ini yang didapatkan dari berbagai informasi yang ada, kemudian perwakilan dari pelajar dan mahasiswa satu persatu dari ke empat dukuh yang ada di desanya dikunjunginya dan dimintai pertimbangan dan saran sebelum akhirnya membentuk organisasi yang notabenenya terdiri dari kaum elit pendidikan desa ini.
Setelah melalui tahap identifikasi dan terjadinya komunikasi intensif serta dorongan dari teman-teman pelajar dan mahasiswa, akhirnya dia pun berbulat tekad bahwa ditahun ini (2007, red) menginjak perkuliahan semester tujuh harus sudah berdiri organisasi tersebut. Alhamdulillah, bertepatan dengan tanggal hari-ha peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-62, dia selaku ketua panitia pembentukan P2MK mengumpulkan dua elemen kaum terpelajar desa tersebut di Balai Desa Ketanjung untuk bermusyawarah membahas rencana pembentukan organisasi tersebut. Akhirnya tepat pukul 14.15 Wib organisasi yang kemudian diberi nama “P2MK” ini secara de facto berdiri dan Balai Desa Ketanjunglah yang menjadi saksi bisu kala itu. Dan usai dilakukan musyawarah dan diadakan pemungutan suara akhirnya terpilihlah saudara Rohmad Soleh sebagai Presiden yang pertama kalinya.
Putra sulung dari pasangan Bapak Ngadimin dan Ibu Sukaenah ini mengaku mendapatkan banyak ilmu dan berkah dari organisasi yang selama ini digelutinya yang kesemuanya itu tidak didapatkan dibangku kuliah. Pasalnya mata kuliah yang ada dan diajarkan di kampus sendiri cuma hanya sekedar teori dan minim aplikasi, makanya mahasiswa harus pandai-pandai mencari tambahan ilmu (baca: organisasi) jikalau ingin pandai tidak hanya dalam tataran akademis melainkan juga secara sosial dan organisatoris. Kedua hal tersebut (antara akademis dan organisasi) harus berjalan secara berirama.
Hal itu telah dibuktikan olehnya. Meskipun sering mengikuti kegiatan diluar kuliah, akan tetapi tidak mempengaruhi nilai kuliahnya selama ini yang dibuktikan dengan Indeks Prestasi (IP)nya selalu di atas tiga. Dari pengalaman inilah dia kemudian berencana mengamalkan dan mengaplikasikan ilmunya dilingkungan desa dimana tempat dia dilahirkan. Selain aktif menghidupkan organisasi di Unissula, dia juga turut serta mendirikan beberapa organisasi di kampusnya yang kemudian diteruskan merintis beberapa organisasi di desanya, antara lain : P2MK (2007), Karang Taruna (2007), Pusat Belajar Anak Desa (PBAD) tahun 2009, Jam’iyah Istighotsah (2009) serta IPNU-IPPNU (2010).
Pria yang memiliki tanggal dan bulan lahir yang sama dengan KH. Abdur Rahman Wahid (PresidenRI ke-4) dan Barack Husain Obama (Presiden Amerika Serikat ke-44) ini merampungkan kuliah Strata Satu (S.1)-nya selama lima tahun (10 semester) tertunda satu tahun dari target normalnya (4 tahun). Selain alasan sibuk di organisasi juga turut serta mengamalkan ilmunya di beberapa sekolahan baik di desanya sendiri maupun di kota seberang, yaitu: Guru Kelas MI Al-Ikhlas Jetak Sari Sayung Demak 2007 (selama satu tahun), Guru Bimbingan Baca Tulis Alqur’an (BTA) SMP N 30 Semarang (tahun 2006 - 2010), dan Guru Mata Pelajaran di Madrasah Diniyah Miftahul Ulum Ketanjung (tahun 2001 sampai sekarang).
Setelah mendapatkan himbauan untuk segera lulus dari orang tuanya dan atas dorongan dan motivasi dari teman-temannya, akhirnya pria yang mempunyai prinsip “dari Kampus pulang Kampung” ini diwisuda pada tanggal 25 Oktober 2008 dan berhak menyandang gelar Sarjana Pendidikan Islam (S. Pd. I.) dengan predikat sangat memuaskan dengan IPK akhir 3,38. Seiring dengan kelulusannya dari Unissula, laki-laki yang berzodiak leo ini sekarang masih mengabdikan dirinya sebagai Guru Mapel di Madrasah Diniyah Miftahul Ulum Ketanjung dan turut serta mengamalkan ilmunya di SD Negeri Ketanjung 2 sebagai Asisten Guru PAI dan Staf Urusan Administrasi.